Walau Bandung memiliki pecinan seperti di beberapa kota di Indonesia dan banyak kota di dunia, hanya saja menurut pemandu dari Bandung Trails, unsur China di pecinan Bandung tidak terlalu kentara.

“Etnis Tionghoa masuk Bandung pada 1882. Ketika itu sudah masuk era modern. Jadi secara arsitektur tidak terlalu menonjol,” Advenatalia sang interpreter memberikan penjelasan.

Program wisata kita kali ini dimulai dengan mengunjungi sebuah pabrik kopi legendaris dan sudah sangat terkenal di Bandung. Terletak di sudut Jalan Pecinan Lama, Kopi Aroma sudah berbisnis kopi sejak 1930-an hingga hari ini. Pabrik ini menurut cerita dibangun oleh seorang keturunan Tionghoa yang saat itu bekerja sebagai karyawan di sebuah perkebunan kopi milik Belanda. Yang luar biasa adalah pabrik kopi masih saja mempertahankan proses pengolahan kopi tradisional alias jadul. Menggunakan alat-alat yang mungkin seusia kakek nenek buyut kita saat ini, Kopi Aroma masih sangat aktif berproduksi dan memiliki banyak sekali penggemar loyal setiap harinya.

“Dari mulai biji sampai sini kita jemur pakai matahari. Setelah itu disimpan selama 5 tahun untuk robusta dan 8 tahun untuk arabika. Setelah itu biji kopi masuk proses penggarangan selama dua jam hingga berubah warna menjadi lebih coklat,” tutur Widya Pratama Tanara saat ditemui di pabriknya.

Pria yang juga berprofesi sebagai dosen itu juga menambahkan, setelah matang, biji kopi kemudian diayak agar terpisah dari kulitnya. Kemudian didinginkan, digiling, dan siap dijual. “Mesin yang digunakan pun asli dari Jerman dan usianya sudah lebih dari 100 tahun,” tuturnya.

Pabrik kopi yang berlokasi di Jalan Banceuy No 51 itu menempati sebuah bangunan bergaya arsitektur art deco khas Belanda. Mulai dari usahanya, sistem pengolahannya, hingga bangunannya memiliki cerita sejarah yang begitu menarik. Berjalan meninggalkan Kopi Aroma untuk menyusuri Jalan Pecinan Lama, sebuah bangunan besar siap menyambut Anda.

Itulah Pasar Baru yang terkenal dengan produk fesyen murahnya. Pasar yang kini selalu padat itu konon pernah dinobatkan sebagai pasar terbersih dan ter-modern se-Hindia Belanda.

“Di pasar ini dulu diperjualbelikan batik, berlian, kerajinan tangan, dan yang lainnya. Dalam 5 hari, pasar ini hanya buka satu kali. Tapi sekarang buka setiap hari dan jenis barang yang ditawarkannya pun lebih beragam,” jelas Advenatalia.

Berjalan sedikit menyusuri jalan di belakang Pasar Baru, Anda akan sampai di Jalan Pasar Selatan. Di pojokan jalan itu berdiri kokoh sebuah bangunankuno dengan papan nama bertuliskan “Toko Jamu Babah Kuya”. Toko jamu yang sudah dirintis sejak tahun 1800-an itu kini dikelola oleh generari ke-4 Babah Kuya.

Saat memasuki toko, Anda akan disuguhi pemandangan ratusan jenis tanaman obat yang sudah dikeringkan. Ada bunga sakura, akar wangi, rotan bulat, biji-bijian, kayu-kayuan, hingga bunga Edelweis pun ada di tempat ini. “Setiap harinya, kami selalu menyediakan jamu jadi untuk dicoba oleh para pelanggan,” ujar Cici pengelola toko

Nama Toko Babah Kuya itu berasal dari kata Babah yang merupakan sebutan untuk pria Tionghoa yang lebih tua dan kuya yang punya arti kura-kura. Kuya juga merupakan simbol China yang punya arti panjang umur. Berbelok sedikit ke Jalan Tamin, ada sebuah jalan masuk kecil ke daerah perumahan warga etnis Tionghoa. Ada sebuah taman kecil yang dikelilingi rumah. Dari beberapa rumah yang ada, ada sebuah rumah yang cukup menarik perhatian. Arsitektur rumah itu bergaya China. Pilar besar dan banyak jendela jadi ciri khas bangunan bercat putih dan abu-abu itu.

Terus menembus gang kecil, Anda akan keluar di sisi Jalan Oto Iskandardinata. Sedikit menyeberang, Anda akan disuguhi pemandangan banner berbagai macam produk elektronik. Jalan ABC namanya. Nama jalan ini konon diambil dari nama sebuah pabrik elektronik yang sempat ada di kawasan itu.

“Di kawasan ini, Anda bisa mendapatkan berbagai produk elektronik, jam tangan, hingga kaca mata dengan harga miring,” tutur Advenatalia.

Menyusuri jalanan padat itu, Anda akan bertemu Jalan Alkateri. Jalan ini merupakan kawasan Kampung Arab. Meski tidak terlalu mencolok, suasana Arab-nya bisa terlihat dari nama-nama jalan yang ada.

“Biasanya jalan di sini diawali dengan suku kata Al-,” jelas Advenatalia.

Berbeda dengan kawasan Jalan ABC yang didominasi toko elektronik, di kawasan ini Anda akan menemukan banyak toko tekstil. Di jalan ini juga ada sebuah kedai kopi tua yang pas untuk bernostalgia. Warung Kopi Purnama namanya.

Berlokasi di Jalan Alkateri No 22, warkop ini sudah berdiri sejak tahun 1930-an. Dirintis oleh pria asal Medan yang hijrah ke Bandung pada tahun 1920-an, resep-resep di warung kopi ini mungkin usianya sudah ratusan tahun. Sebagai menu andalannya, warkop ini menggunakan Kopi Aroma yang punya cita rasa khas.

Untuk menemani minum kopi, aneka sajian roti kukus dan bakar yang ada hingga 25 macam rasa bisa Anda pilih sesuai selera. Selain menu-menu ringan, warkop ini juga menawarkan menu-menu berat seperti sop buntut, timbel, nasi goreng, dan masih banyak menu lainnya. Interiornya yang kuno ditambah perabotan kayu yang tidak kalah kuno memang jadi nilai lebih dari kopi tiam ini.

Nah, berjalan kaki di tengah kota menyusuri jalan-jalan kecil ternyata bisa jadi wisata yang menyenangkan. Belum lagi bertambahnya pengetahuan tentang sejarah kota tercinta ini. Kegiatan jalan-jalan ini bisa jadi alternatif Anda untuk mengisi liburan bersama keluarga …

Suka dengan artikel ini ? beri Rating dan Share artikel ini yaa. Tq.

Fast Response

×

Hallo!

Selamat datang di Marjaya Trans, PO Bus Pariwisata Terbaik dan Terpercaya di Bandung.

× Ada yang bisa kami bantu ?